SEBUAH CATATAN PENDEK DI PENGHUJUNG DUA MEI

Indonesia dikatakan telah merdeka lebih dari setengah abad. Pada fase ‘merdeka’ itu dikatakan pendidikan menjadi penggerak bangsa kedua setelah peningkatan taraf ekonomi melalui industrialisasi, entah industrialisasi teknologi, industri pariwisata maupun pertanian; walaupun sampai saat ini jargon-jargon itu masih tetap “jalan di tempat” atau bahkan berjalan a la “moon-walk”-nya Michael Jackson, yaitu sepasang kaki seolah-olah melangkah maju namun sebenarnya bergerak mundur.

Pada tulisan ini saya mencoba menguak sedikit kisah pilu pencerdasan yang semakin tidak disadari oleh para pelakunya yaitu bangsa ini. Pernah pada suatu kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (sewaktu saya belum mengundurkan diri dari sana), seorang dosen arkeologi yang terkenal Dr. Teuku Jacob pernah berkata demikian:

Ijazah itu bukan menunjukkan kelulusanmu, kertas itu hanya menunjukkan alamat di mana kamu pernah bersekolah. Nilai-nilai tertulis itu bukan indikasi tingkat kecerdasanmu; A, B, B-plus dan sebagainya itu hanya menunjukkan nasibmu saat itu.”

Pada era tahun 70-an para pendidik negeri ini sungguh sangat dihargai, hal ini dibuktikan pada tahun-tahun itu Indonesia menjadi pengekspor guru dan dosen ke negeri-negeri tetangga seperti Malaysia, Commonwealth Brunei (sebelum menjadi Brunei Darussalam) bahkan hingga Singapura. Sungguh sangat disayangkan pada era 90-an hingga kini Indonesia justeru menjadi pengekspor tenaga kerja tak berketrampilan atau isilah halusnya TKI yang sering dibius dengan pujian palsu “Pahlawan Devisa”.

 

Merosotnya kualitas berkepandaian

 1. Sisi tenaga pendidik

Isu gunung es pada era tahun 1970 – 2003 adalah tentang gaji guru yang begitu rendah bahkan di bawah UMR atau UMK. Keadaan ini menjadi salah satu pemicu merosotnya mutu pendidikan, yaitu sebagian orang menjadi tenaga pendidik bukan karena ingin mencerdaskan anak didik tetapi lebih kepada karena ‘tidak ada pekerjaan lainnya’, keadaan semacam ini tentu menimbulkan efek berantai negatif yaitu kondisi psikis yang acuh tak acuh pada para guru yang berefek pada acuh tak acuhnya para anak didik untuk menjadi cerdas. Hal ini dibuktikan banyaknya guru yang mangkir demi mengejar rezeki di tempat lain atau hanya meninggalkan catatan-catatan tertentu.

Keadaan lain yang menyebabkan merosotnya mutu kecerdasan bangsa ini adalah, penempatan tenaga pendidik yang tidak pada bidangnya; sebagai contoh banyak guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) yang tidak memiliki dasar-dasar ilmu psikologi bahkan acuh tak acuh terhadap kognitif-psikologis para anak didik, yang pada gilirannya penempatan ini menjadi tanpa guna. Keadaan lain adalah penguasaan tenaga pendidik terhadap ilmu yang mereka ajarkan, karena kurangnya gaji, mereka tentu akan berpikir puluhan kali untuk mengalokasikan dana dan waktunya untuk membeli buku-buku tertentu dan memperdalam ilmunya.

 

2. Sisi anak didik dan keluarga.

Acuh tak acuhnya guru terhadap profesinya, tentu berefek pada semangat dan keinginan anak didik untuk menjadi cerdas belum lagi jika si anak didik berasal dari keluarga yang ‘membungsukan’ arti pendidikan, tentu hal ini akan menjadi ‘superimpose’ negatif terhadap pola didik anak.

Namun, seburuk-buruknya sistem pendidikan formal adalah lebih penting bagaimana satu lembaga keluarga membangkitkan semangat belajar anak. Sebagai contoh pengalaman saya; kedua orang tua saya berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA negeri, sewaktu saya usia SD ibu saya yang menjadi pengajar utama bidang matematika karena termasuk cukup ahli dalam hal matematika SD, terutama dalam memberikan logika-logika pengerjaan pada soal-soal esai; sementara ayah saya lebih kepada pengajaran bahasa (beliau ahli dalam Bahasa Inggris, Sanskerta dan sedikit Bahasa Perancis). Mereka berdua sungguh memperhatikan bagaimana caranya membangkitkan semangat belajar anak-anaknya.

Keluarga juga juga menjadi penggerak awal dari pembentukan karakter anak terhadap timbulnya rasa hormat terhadap kejujuran dalam meresapi arti self-education, kejujuran berlogika dan kecerdasan mengungkapkan pendapat.

Pernah pada suatu ketika di tahun 1992 ketika saya baru semester awal di Universitas Diponegoro, diadakan pertemuan BMOM di dekanat fakultas dan ayah saya menanyakan bagaimana sistem pengawasan ujian sehingga mahasiswa menjadi berada pada keadaan ‘terpaksa jujur’ ketika ujian, karena setiap kemungkinan untuk contek-menyontek atau sistem percontekan dieliminasi sedemikian rupa; tak beberapa lama kemudian ayah salah seorang teman saya satu jurusan ( waktu itu dia menjabat kepala akunting di salah satu penyedia perusahaan negara di Semarang ) justeru menyalahkan pertanyaan ayah saya mengenai sikap pembangunan sistem jujur itu, dia malah berkata demikian,

kalau semua mahasiswa harus menjadi jujur kapan nilai mereka akan bagus, Pak, menyontek itu wajar, toh bukan kriminal.

Korupsi, jalan pintas dan tindak kriminal adalah dimulai dari keengganan untuk membentuk pribadi yang jujur dan itu dimulai di dalam keluarga.

Bayangkan jika setiap nilai A, A+ atau B dan IPK 3,99 atau penghormatan kelulusan summa cumlaude adalah hasil ketidakjujuran, akan bertahankah ‘sarjana’ itu menghadapi pangsa pasar intelektual ?

 

3. Komersialisasi bukti-kecerdasan.

Kesalahan paling fatal yang sering dilakukan oleh orang tua dan oknum guru adalah apa yang saya sebut sebagai komersialisasi bukti-kecerdasan.

Secara tidak sadar, orang tua yang sangat sibuk mencari gelimangan uang sering memformulasikan kemajuan pendidikan anaknya dengan format komersial tanpa sudi mengikuti proses si anak mencerdaskan diri, misalkan;

Budi, kalau nilaimu semester ini rata-rata 9 maka papa akan mengajakmu ke Disneyland Tokyo.

Atau

Dina, kalau semester ini IPK mu 3,98 maka papa akan mengajakmu ke Paris.

Janji-janji komersial semacam ini tidak mempersyaratkan pembangunan karakter jujur, karena bukan berbicara tentang orientasi proses melainkan orientasi hasil, dan bagi seorang anak yang terdengar adalah “nilai bagus = Disneyland” atau “nilai bagus = Paris” sehingga kemungkinan si anak akan mencari jalan ‘breakthrough/terobosan’ akan terpupuk, tentu dalam arti negatif.

Komersialisasi berikutnya adalah pembocoran soal-jawaban oleh oknum pendidik demi mendapatkan sedikit ‘tambahan rezeki’; hal ini sama buruknya dengan sikap komersialisasi orang tua terhadap pendidikan anaknya.

 

~ Semoga kedodoran pendidikan negeri ini terbenahi, dimulai dari lembaga pendidikan terkecil yaitu keluarga ~  

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s